Kamis, 23 Desember 2010

APA ARTI KATA 'DZAT'.??

syirik adalah lawan kata
dari tauhid, yaitu sikap
menyekutukan Allah
secara dzat, sifat,
perbuatan, dan ibadah.
Adapun syirik secara dzat
adalah dengan meyakini
bahwa dzat Allah seperti
dzat makhlukNya. Akidah
ini dianut oleh kelompok
mujassimah. Syirik secara
sifat artinya seseorang
meyakini bahwa sifat-
sifat makhluk sama
dengan sifat-sifat Allah.
Dengan kata lain, mahluk
mempunyai sifat-sifat
seperti sifat-sifat Allah.
Tidak ada bedanya sama
sekali.
Maka pernahkan kamu
melihat orang yang
menjadikan hawa nafsu
sebagai Tuhannya dan
Allah membiarkannya
sesat berdasarkan lmu-
Nya dengan terkunci mati
pendengaran dan hatinya
dan tertutup atas
penglihatannya. Maka
siapakah yang akan
memberinya petunjuk
sesudah Allah
(membiarkannya sesat).
Mengapa kamu tidak
mengambil pelajaran?
(Q.S Al Jaatsyiah (45) : 23)
Menurut Ibnu Araby
dalam Kitab Tafsir
Tasawufnya, “Tafsirul
Qur’anil Karim”
menegaskan, bahwa
dengan (menyebut) Asma
Allah, berarti Asma-asma
Allah Ta ’ala
diproyeksikan yang
menunjukkan
keistimewaan-nya, yang
berada di atas Sifat-sifat
dan Dzat Allah Ta ’ala.
Sedangkan wujud Asma
itu sendiri menunjukkan
arah-Nya, sementara
kenyataan Asma itu
menunjukkan
Ketunggalan-Nya.
Allah itu sendiri
merupakan Nama bagi
Dzat (Ismu Dzat)
Ketuhanan. dari segi
Kemutlakan Nama itu
sendiri. Bukan dari
konotasi atau pengertian
penyifatan bagi Sifat-
sifat-Nya, begitu pula
bukan bagi pengertian
“ Tidak membuat
penyifatan”.
Dzat sendiri
tersembunyikan oleh
Sifat, dan Sifat
tersembunyikan oleh
Af ’aal. Af’aal
tersembunyikan oleh
jagad-jagad dan makhluk.
Oleh sebab itu, siapa pun
yang meraih Tajallinya
Af ’aal Allah dengan
sirnanya tirai jagad raya,
maka ia akan tawakkal.
Sedangkan siapa yang
meraih Tajallinya Sifat
dengan sirnanya tirai
Af ’aal, ia akan Ridha dan
Pasrah. Dan siapa yang
meraih Tajallinya Dzat
dengan terbukanya tirai
Sifat, ia akan fana dalam
kesatuan. Maka ia pun
akan meraih Penyatuan
Mutlak. Ia berbuat, tapi
tidak berbuat. Ia
membaca tapi tidak
membaca
“ Bismillahirrahmaanirrahiim”.
Tauhidnya af’aal
mendahului tauhidnya
Sifat, dan ia berada di
atas Tauhidnya Dzat.
Dalam trilogi inilah Nabi
saw, bermunajat dalam
sujudnya, “Tuhan, Aku
berlindung dengan
ampunanmu dari
siksaMu, Aku berlindung
dengan RidhaMu dari
amarah dendamMu, Aku
berlindung denganMu
dari diriMu”.
jadi dzat Alloh bukan
seperti yang ada didunia.
keterbatasan ilmu kita,
sehingga tak akan
mampu untuk
memikirkannya.
wallohu'alam
09 Oktober jam 21:59 · Suka · Hapus
Tanya Jawab Masalah
Islam a sifat-sifat
dzatiyah itu identik
dengan dzat Allah dan
menafikan
ketika secara substansial
dzat Allah tidak memiliki
sifat hayat (hidup),
kemudian Dia
menciptakan sesuatu
maujud yang dinamakan
hayat (hidup), setelah itu
barulah Dia tersifati
dengan sifat hayat ini.
Begitu juga dengan sifat
Ilmu, kuasa dan lainnya.
Padahal, mustahil apabila
sebab pengada itu secara
substansial tidak memiliki
kesempurnaan yang ada
pada makhluk-Nya. Lebih
ganjil lagi, jika kita
meyakini bahwa Pencipta
itu memperoleh sifat
hidup, ilmu, dan kuasa
dari makhluk-makhluk-
Nya, lalu Dia disifati
dengan seluruh sifat
kesempurnaan berkat
makhluk-nya tersebut.
Dengan gugurnya asumsi-
asumsi di atas, tampak
jelas bahwa masing-
masing sifat Ilahi itu
bukanlah realitas yang
mandiri dan terpisah dari
dzat-Nya. Pada
hakikatnya, semua sifat
itu merupakan konsep-
konsep yang dicerap oleh
akal dari satu realitas
yang sederhana (basith),
yaitu dzat Allah Yang
Suci.
Memikirkan Dzat Allah
Orang yang memikirkan
dzat Allah tidak akan
sampai kepada apa yang
diinginkannya ia akan
tersesat karena akal
manusia tidak akan
sampai kesana. Ketika
memikirkan dzat Allah ia
akan terpeleset pada
kesyirikan.
Definisi syirik adalah
lawan kata dari tauhid,
yaitu sikap
menyekutukan Allah
secara dzat, sifat,
perbuatan, dan ibadah.
Adapun syirik secara dzat
adalah dengan meyakini
bahwa dzat Allah seperti
dzat makhlukNya. Akidah
ini dianut oleh kelompok
mujassimah. Syirik secara
sifat artinya seseorang
meyakini bahwa sifat-
sifat makhluk sama
dengan sifat-sifat Allah.
Dengan kata lain, mahluk
mempunyai sifat-sifat
seperti sifat-sifat Allah.
Tidak ada bedanya sama
sekali.
Sesungguhnya sifat-sifat
yang dinisbatkan kepada
Allah, adakalanya berupa
konsep-konsep
(gambaran di mental)
yang diperoleh akal dari
pengamatannya atas zat
Allah, sambil
menekankan bahwa sifat-
sifat tersebut mencakup
berbagai kesempurnaan
seperti; sifat hidup (Al-
Hayah), ilmu (Al-'Ilm), dan
kuasa (Al-Qudrah) dan
sifat-sifat lainnya.Atau,
adakalanya sifat-sifat itu
berupa konsep-konsep
yang diperoleh akal dari
pengamatannya atas
bentuk-bentuk hubungan
antara Allah SWT dengan
makhluk-makhluk-Nya
seperti; penciptaan (Al-
Khaliqiyah) dan
pemberian rizki (Ar-
Razikiyah). Kelompok
pertama disebut sebagai
sifat–sifat dzatiyah, dan
kelompok kedua sebagai
sifat-sifat fi'liyah.
Perbedaan mendasar
antara dua sifat tersebut
ialah bahwa sifat-sifat
pada kelompok pertama
merupakan realitas
objektif yang nyata bagi
dzat Ilahi yang suci-Nya.
Adapun sifat-sifat pada
kelompok kedua
merupakan relasi (nisbah)
antara Allah dan
makhluk-Nya. Di sini, dzat
Allah dan dzat makhluk-
Nya merupakan dua sisi
relasi, misalnya Al-
Khaliqiyah. Sifat ini
diperoleh dari hubungan
yang terdapat pada
makhluk-makhluk-Nya
dengan dzat Allah. Dalam
hal ini, Allah SWT dan
seluruh makhluk
merupakan dua sisi
hubungan tersebut. Akan
tetapi dalam realitasnya,
tidak terdapat apa pun
selain dzat Allah yang
suci dan dzat-dzat
makhluk-Nya. Artinya
bahwa Al-Khaliqiyah itu
bukanlah sebuah realitas
yang nyata.
Sudah jelas bahwa pada
tataran dzat, Allah SWT
memiliki sifat Al-Qudrah
(kekuasaan) untuk
mencipta. Akan tetapi,
sifat ini merupakan sifat
dzatiyah. Adapun Al-
Khalq (penciptaan)
merupakan mafhum idlafi
(konsep relasional) yang
diperoleh pada tataran
tindakan Allah. Oleh
karena itu, Al-Khaliq
(pencipta) termasuk sifat
fi'liyah. Lain halnya jika
kita menafsirkan Al-
Khaliq (pencipta) dengan
Al-Qadir 'alal khalq
(kuasa untuk mencipta),
dalam hal ini ia kembali
kepada sifat dzatiyah,
yakni Al-Qudrah.
Sifat-sifat dzatiyah Allah
yang penting ialah Al-
Hayah (hidup), Al-'Ilm
(tahu), dan Al-Qudrah
(kuasa). Adapun sifat
mendengar (As-Sami')
dan melihat (Al-Bashir),
apabila kita tafsirkan
kedua sifat ini bahwa
Allah mengetaui apa saja
yang didengar dan apa
saja yang dilihat, atau
kuasa untuk mendengar
dan melihat, maka kedua
sifat tersebut menginduk
kepada Al-'Alim dan Al-
Qadir (Mahatahu dan
Mahakuasa). Namun, jika
maksud kedua sifat itu
adalah mendengar dan
melihat secara tindakan
(fi'li) yang dicerap akal
dari hubungan Dzat Yang
Mahadengar dan
Mahalihat dengan segala
sesuatu yang mungkin
untuk didengar dan
dilihat, maka kedua sifat
tersebut harus
digolongkan ke dalam
sifat fi'liyah. Sebagimana
sifat ilmu terkadang
digunakan dengan
pengertian demikian ini.
Istilah seperti ini
dinamakan sebagai ilmu
fi'li.
Sebagian mutakalimin
menggolongkan sifat
berkata (Al-Kalam) dan
berkehendak (iradah) ke
dalam sifat dzatiyah,
yang Insya Allah hal ini
akan kita bahas pada
bagian berikutnya.
Menetapkan Sifat-sifat
Dzatiyah
Cara yang paling mudah
untuk menetapkan sifat
Al-Hayah, Al-Qudrah dan
Al-'Ilm pada Allah SWT
adalah sebagai berikut;
bahwa tatkala konsep
(dari sifat-sifat) tersebut
berlaku pada makhluk-
makhluk, ia merupakan
kesempurnaan bagi
mereka. Konsekuensinya
adalah sifat-sifat itu pun
terdapat pada Sebab
Pengada dalam bentuk
yang lebih mulia dan
lebih sempurna. Karena,
setiap kesempurnaan
yang ada pada makhluk
manapun bersumber dari
Sebab Pengada, yaitu
Allah SWT. Dengan
demikian, Dia pasti
memiliki sifat-sifat
tersebut sehingga
menganugerahkan
kepada makhluk-
makhluk-Nya. Sebab,
tidak mungkin suatu dzat
adalah sebagai Pencipta
kehidupan, sementara
Dia sendiri tidak
memilikinya, atau
menganugerahkan
pengetahuan dan
kekuasaan kepada
makhluk-makhluk-Nya,
sementara Dia sendiri
jahil dan lemah. Jelas,
bahwa setiap yang tidak
memiliki sesuatu tidak
akan dapat memberikan
sesuatu kepada selainnya
(Faqidu As-Syai' La
Yu'thihi).
Maka itu, keberadaan
sifat-sifat kesempurnaan
pada sebagian makhluk-
Nya merupakan dalil atas
keberadaan sifat-sifat
tersebut pada Al-Khaliq
(pencipta) tanpa
berkurang dan terbatas.
Artinya, Allah SWT
memiliki sifat hidup, ilmu
dan kuasa secara mutlak
dan tak terbatas. Untuk
selanjutnya, kami akan
membahas masing-
masing dari ketiga sifat
tersebut secara lebih
luas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar