Firman Allah swt :
اَّم َكَباَصَأ ْنِم
ٍةَنَسَح َنِمَف ِهّللا اَمَو
َكَباَصَأ نِم ٍةَئِّيَس
نِمَف َكِسْفَّن
Artinya : “Apa saja
nikmat yang kamu
peroleh adalah dari Allah,
dan apa saja bencana
yang menimpamu, maka
dari (kesalahan) dirimu
sendiri. ” (QS. An Nisaa :
79)
Ibnu Katsir mengatakan
bahwa makna “Apa saja
nikmat yang kamu
peroleh adalah dari
Allah ” adalah dari
karunia dan kasih sayang
Allah swt. Sedangkan
makna “dan apa saja
bencana yang
menimpamu, maka dari
(kesalahan) dirimu
sendiri. ” Berarti dari
dirimu sendiri dan dari
perbuatanmu sendiri,
sebagaimana firman-
Nya :
اَمَو مُكَباَصَأ نِّم
ٍةَبيِصُّم اَمِبَف
ْتَبَسَك مُكيِدْيَأ
ْ وُفْعَيَو نَع ٍريِثَك
“ Dan apa saja musibah
yang menimpa kamu
maka adalah disebabkan
oleh perbuatan tanganmu
sendiri, dan Allah
memaafkan sebagian
besar (dari kesalahan-
kesalahanmu).” (QS. Asy
Syura : 30)
As Suddiy, Hasan al
Bashri, Ibnu Juraih dan
Ibnu Zaid mengatakan
bahwa makna “maka dari
dirimu sendiri” adalah
karena dosamu. Qatadah
mengatakan bahwa
makna ” “Apa saja nikmat
yang kamu peroleh
adalah dari Allah, dan
apa saja bencana yang
menimpamu, Maka dari
(kesalahan) dirimu
sendiri. ” Adalah akibat
dosamu wahai anak
Adam.
Didalam sebuah hadits
disebutkan, ”Demi yang
jiwaku berada ditangan-
Nya, tidaklah seorang
mukmin ditimpa
kegalauan, kesedihan,
kepayahan bahkan duri
yang menancap padanya
kecuali dengannya Allah
akan menghapuskan
kesalahan-
kesalahannya. ” (Tafsir al
Qur’an al Azhim juz II hal
363)
Sedangkan bala atau
cobaan maupun ujian
juga telah disebutkan
didalam Al Qur ’an
diantaranya firman Allah
swt :
كوُلْبَنَومُ ِّرَّشلاِب
رْيَخْلاَوِ ًةَنْتِف
َنْيَلِإَوا نوُعَجْرُت َ
Artinya : “Kami akan
menguji kamu dengan
keburukan dan kebaikan
sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya). dan
hanya kepada Kamilah
kamu dikembalikan. ” (QS.
Al Anbiya : 35)
Cobaan atau ujian yang
menimpa setiap orang
dan ia ini isa berupa
keburukan atau
kebaikan, kesenagan
atau kesengsaraan,
sebagaimana disebutkan
pula didalam firman-Nya
yang lain :
“ Dan kami coba mereka
dengan (nikmat) yang
baik-baik dan (bencana)
yang buruk-buruk. ” (QS.
Al A’raf : 168)
Ibnu Katsir mengatakan
bahwa makna “Kami
akan menguji kamu
dengan keburukan dan
kebaikan sebagai cobaan
(yang sebenar-benarnya )”
adalah terkadang Kami
menguji dengan berbagai
musibah dan terkadang
dengan berbagai
kenikmatan agar kami
mengetahui orang-orang
yang bersyukur dari
orang-orang yang kafir,
orang-orang yang
bersabar dari orang-
orang yang berpuus asa
sebagaimana perkataan
Ali bin Thalhah dari Ibnu
Abbas bahwa makna
“ Dan Kami menguji
kalian” dia mengatakan
Kami menguji kalian
dengan keburukan dan
kebaikan sebagai fitnah
(cobaan), dengan
kesulitan dan
kelapangan, kesehatan
dan rasa sakit, kekayaan
dan kemiskinan, halal dan
haram, ketaatan dan
kemaksiatan, petunjuk
dan kesesatan …
sedangkan firman-Nya
yang berarti “dan hanya
kepada Kamilah kamu
dikembalikan ” adalah
Kami akan memberikan
ganjaran (balasan) atas
amal kamu. (Tafsir al
Qur ’an al Azhim juz V hal
342)
Cobaan atau ujian ini
juga terkadang
disesuaikan dengan kadar
dan kualitas keimanan
seseorang serta sebagai
sarana untuk
menambahkan pahala
orang yang terkena ujian
ini, karena itu didalam
hadits yang diriwayatkan
oleh Bukhori disebutkan
bahwa orang yang paling
berat ujiannya adalah
para nabi.
Syeikh Al Mubarokhfuriy
mengatakan bahwa
mereka (para nabi) yang
paling berat ujian dan
cobaannya karena
mereka adalah orang-
orang yang merasakan
kelezatan semua cobaan
itu sebagaimana
kebanyakan orang
merasakan lezat semua
kenikmatan. Karena
apabila para nabi tidak
diuji maka keimanan
kepada Allah yang ada
didalam diri mereka
hanya akan menjadi
khayalan dan
melemahkan umat
didalam kesabarannya
menghadapi suatu
cobaan. Hal itu juga
dikarenakan orang yang
paling berat cobaan
adalah yang paling kuat
ketaatannya dan paling
kuat didalam
mengembalikan segala
urusannya kepada Allah
swt. (Tuhfatul Ahwadzi
juz VI hal 185)
Cobaan atau ujian ini bisa
juga disebabkan karena
kesalahan atau dosa yang
dilakukan seseorang,
seperti dosa seseorang
yang meninggalkan jihad
dikarenakan para wanita-
wanitanya, sebagaimana
firman Allah swt :
مُهْنِمَو نَّم ُلوُقَي نَذْئا
يِّل َالَو يِّنِتْفَت
َالَأ يِف ةَنْتِفْلا
ِ ْاوُطَقَس
Artinya : “Di antara
mereka ada orang yang
berkata: "Berilah saya
keizinan (tidak pergi
berperang) dan janganlah
kamu menjadikan saya
terjerumus dalam
fitnah." (QS. At Taubah :
49)
Sesungguhnya ujian
ataupun cobaan yang
ditimpakan kepada orang
itu adalah ketika orang
itu mengatakan
pemohonan izinnya
kepada Rasulullah saw
disebabkan kelemahan
iman mereka untuk ikut
berperang di jalan Allah
melawan pasukan
Romawi dengan mencari-
cari alasan kecantikan
para wanita Romawi yang
bisa membuat mereka
tidak tahan dan akan
mempengaruhi jihad
mereka.
Dengan demikian bisa
difahami bahwa cobaan
atau ujian adalah lebih
luas atau lebih umum
daripada musibah.
Dikarenakan tidaklah
disebut musibah kecuali
untuk sesuatu yang tidak
menyenangkan bagi
seorang yang
mendapatkannya
sementara ujian atau
cobaan bisa berupa
kesenangan atau
kesengsaraan. Dan
terkadang efek dari bala’
ini lebih berat daripada
musibah. Orang
terkadang sanggup
bertahan didalam
keimanan saat
mendapatkan kesulitan
akan tetapi hilang
imannya tatkala
mendapatkan
kesenangan.
Dan apapun yang
diterima seorang muslim
baik ia berupa ujian
maupun cobaan baik
berupa kesenangan
ataupun kesengsaraan,
kelapangan atau
kesempitan, kekayaan
atau kemiskinan maka
semuanya adalah baik
baginya karena mereka
adalah orang-orang yang
bersyukur ketika dirimpa
kesenangan dan bersabar
ketika ditimpa
kesengsaraan.
Dan tidaklah suatu
musibah atau ujian itu
ditimpakan kepada
seorang mukmin kecuali
adalah sebagai pembersih
dosa dan kesalahannya di
dunia sehingga tidak ada
lagi baginya siksa atas
dosa itu di akhrat,
sebagaimana yang
diriwayatkan oleh
Tirmidzi disebutkan
bahwa Rasulullah saw
bersabda, ”Tidaklah
seorang mukmin atau
mukminah yang ditimpa
suatu bala ’ (cobaan)
sehingga ia berjalan di
bumi tanpa membawa
kesalahan. ”
Sementara musibah atau
ujian yang diberikan
kepada orang-orang kafir
adalah bagian dari adzab
Allah kepada mereka di
dunia sementara adzab
yang lebih besar telah
menantinya di akherat,
sebagaimana firman-
Nya :
قيِذُنَلَوْمُهَّنَ َنِم
ِباَذَعْلا ىَنْدَأْلا َنوُد
ِباَذَعْلا رَبْكَأْلا
ِ مُهَّلَعَلْ نوُعِجْرَي َ
Artinya : “Dan
Sesungguhnya kami
merasakan kepada
mereka sebahagian azab
yang dekat (di dunia)
sebelum azab yang lebih
besar (di akhirat),
Mudah-mudahan mereka
kembali (ke jalan yang
benar). ” (QS. As Sajdah :
21)
“ Itulah orang-orang yang
tidak memperoleh di
akhirat, kecuali neraka
dan lenyaplah di akhirat
itu apa yang telah
mereka usahakan di
dunia dan sia-sialah apa
yang Telah mereka
kerjakan. (QS. Huud : 16)
Didalam sebuah hadis
yang diriwayatkan dari
Anas bin Malik bahwa
Rasulullah saw
bersabda,”Sesungguhnya
Allah tidaklah menzhalimi
seorang mukmin,
diberikan kepadanya
kebaikan di dunia dan
disediakan baginya
pahala di akherat.
Adapun orang yang kafir
maka ia memakan
dengan kebaikan-
kebaikan yang
dilakukannya di dunia
sehingga ketika dia
kembali ke akherat maka
tidak ada lagi satu
kebaikan pun sebagai
ganjaran baginya. “ (HR.
Muslim)
Senin, 13 Desember 2010
BENCANA TAHUN 2010 INDENTIK DG ANGKA 26, APAKAH MAKSUDNYA.??
Jumat, 03 Desember 2010
MENUHANKAN HARTA WANITA DAN WAKTU APAKAH SYIRIK.??
Telaah At-Taubah:24) Katakanlah:
"Jika bapa-bapa, anak-anak,
saudara-saudara, isteri-isteri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang
kamu usahakan, perniagaan yang
kamu khawatiri kerugiannya, dan
rumah-rumah yang kamu sukai,
adalah lebih kamu cintai daripada
ALlah dan RasulNya dan (dari)
berjihad di jalanNya, maka
tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusanNya." Dan
ALlah tidak memberi petunjuk pada
faasiqiin. (QS, 9:24) Ikhwan/akhwat,
Assalamualaikum, Dalam menelaah
dan memahami ayat ini ada
baiknya kita lihat pembahasan Ibnu
Taimiyyah dalam bukunya:
"Al'Ubudiyyah" (Pengabdian). Dalam
buku tersebut, Ibnu Taimiyyah
menuliskan beberapa tahapan cinta
(marahilal-mahabah), atau lebih
tepat dikatakan fase-fase cinta.
Ibnu Taimiyyah - semoga ALlah
ridha kepadanya - menjabarkan
fase-fase dan prioritas cinta tersebut
secara rinci, sistematik dan
menarik. : 1. Simpati (Muta'atif)
Menurut Ibnu Taimiyyah cinta tak
akan tumbuh kalau tak terdapat
rasa simpati terhadap yang dicintai.
Simpati, paling sering, timbul pada
pandangan terhadap penampilan
fisik, sikap dan juga pemikiran. Bila
simpati telah ada, maka akan
berlanjut pada fase berikutnya.
"Simpati" seseorang kepada ALlah,
dapat timbul karena ta'jub terhadap
tanda-tanda kekuasaan, kekuatan
dan keperkasaan ALlah yang
terdapat di semesta alam. Dengan
kata lain, cinta seorang hamba
kepada ALlah dapat timbul setelah
menyadari dan meyakini
keperkasaan ALlah setelah melihat
tanda- tanda kebesaranNya. 2.
Curahan Hati (Ash Shabbabah) Bila
rasa simpati telah tertanggapi,
maka seseorang akan
menjadikannya sebagai tempat
untuk mencurahkan isi hati, tempat
mengeluarkan "uneg-uneg",
sehingga menumbuhkan cinta
sesungguhnya. Dalam hubungan
antar manusia, hal ini boleh
dikatakan sebagai saling
menyatakan rasa cinta. Menurut
Ibnu Taimiyyah, seorang hamba
dengan melihat ayat-ayat yang
terhampar (al ayyatul kauniyyah)
di semesta ini, sebenarnya sudah
cukup untuk dapat bersijut ke fase
berikutnya dengan bertambahnya
keseriusan yang dimiliki untuk
dapat lebih dekat kepada yang
dicintainya (ALlah SWT) serta
menjadikannya curahan hati (dalam
berdo'a). Rasa simpati saja, tanpa
keseriusan dan kesungguhan,
mustahil dapat memberikan hasil
berupa rasa cinta. 3. Rindu (Asy
Syauku) Bila telah saling cinta, maka
rasa rindu pasti timbul. Apapun dan
siapapun yang dicintai, pasti akan
menimbulkan rasa rindu. Orang
yang rindu, tak jarang selalu
teringat kepada yang dirindui/
dicintai, ingin selalu menyebut
namanya, senang bila terdengar
nama yang dicintai dan sangat ingin
segera bertemu. Orang yang
teramat sangat cintanya kepada
ALlah SWT, juga akan senantiasa
rindu dan selalu ingat serta selalu
ingin menyebut namanya (dzikir),
dan bergetar hatinya bila
disebutkan ayat- ayatNya (8:2) 4.
Mesra (Al 'Isyqu) Orang yang saling
memendam rindu, bila kemudian
bertemu akan saling merasakan
kemesraan. Di tingkat ini,
kemesraan tidak jarang akan
melalaikan. Bila kemesraan telah
mencapai tingkatan yang
melenakan, maka fase ini telah
berubah ke fase berikutnya yaitu
pengabdian. 5. Pengabdian (Al
'Ubudiyyah) Fase cinta berupa
pengabdian hanyalah hak ALlah,
bila seseorang mencintai sesuatu
sampai ia lalai, berarti sesuatu yang
dicintai dan dimesrainya itu telah
menjadi ilah-nya. Karenanya
banyak manusia yang menuhankan
sesuatu selain ALlah. Seorang
muslim boleh-boleh saja mencintai
manusia (orangtua, anak, isteri/
suami) atau harta kekayaan,
perniagaan, rumah dan lain lain,
seperti yang disebutkan dalam ayat
9:24, TAPI kecintaan tersebut tidak
boleh melebihi kecintaannya
kepada ALlah SWT, RasulNya dan
berjihad fisabiliLlah. Kecintaan
kepada selain ALlah, hanya bisa
ditolerir sampai fase ke-empat yang
tidak sampai melalaikan, demikian
menurut Ibnu Taimiyyah.
Kenyataannya? Fenomena yang
ada di sekitar kita mengatakan lain!
Banyak terjadi, cinta hamba kepada
ALlah hanya setaraf simpati, sedang
cintanya pada selain ALlah justru
cinta seorang abdi. Ada pula hamba
yang kecintaannya kepada ALlah
dan yang selain ALLah didudukkan#
pada tingkat yang sama, yakni
pengabdian. AudzubiLlahi min
dzalika. Dalam hal ini Muhammad
bin Abdul Wahhab, murid Ibnu
Taimiyyah, dalam "Kitab Tauhid"-
nya (yang tengah diposting secara
serial oleh akh Jazi Istiyanto)
menyatakan bahwa menyamakan
kecintaan kita kepada ALlah dengan
kecintaan kepada selain ALlah, syirik
besar hukumnya. Beliau
menamakan syirik tersebut sebagai
2:165. Semoga kita termasuk
mereka yang dapat
memprioritaskan cintanya kepada
ALlah Rabbul Jalil, kepada RasulNya
dan kepada Al- Islam; dan semoga
kita terlindung dari perbuatan syirik.
Wassalamu'alaikum Reference: [1]
Ibnu Taimiyyah, "Al 'Ubudiyyah" [2]
Al Quran & Terjamahnya (Depag RI),
2:165 dan 9:24
"Jika bapa-bapa, anak-anak,
saudara-saudara, isteri-isteri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang
kamu usahakan, perniagaan yang
kamu khawatiri kerugiannya, dan
rumah-rumah yang kamu sukai,
adalah lebih kamu cintai daripada
ALlah dan RasulNya dan (dari)
berjihad di jalanNya, maka
tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusanNya." Dan
ALlah tidak memberi petunjuk pada
faasiqiin. (QS, 9:24) Ikhwan/akhwat,
Assalamualaikum, Dalam menelaah
dan memahami ayat ini ada
baiknya kita lihat pembahasan Ibnu
Taimiyyah dalam bukunya:
"Al'Ubudiyyah" (Pengabdian). Dalam
buku tersebut, Ibnu Taimiyyah
menuliskan beberapa tahapan cinta
(marahilal-mahabah), atau lebih
tepat dikatakan fase-fase cinta.
Ibnu Taimiyyah - semoga ALlah
ridha kepadanya - menjabarkan
fase-fase dan prioritas cinta tersebut
secara rinci, sistematik dan
menarik. : 1. Simpati (Muta'atif)
Menurut Ibnu Taimiyyah cinta tak
akan tumbuh kalau tak terdapat
rasa simpati terhadap yang dicintai.
Simpati, paling sering, timbul pada
pandangan terhadap penampilan
fisik, sikap dan juga pemikiran. Bila
simpati telah ada, maka akan
berlanjut pada fase berikutnya.
"Simpati" seseorang kepada ALlah,
dapat timbul karena ta'jub terhadap
tanda-tanda kekuasaan, kekuatan
dan keperkasaan ALlah yang
terdapat di semesta alam. Dengan
kata lain, cinta seorang hamba
kepada ALlah dapat timbul setelah
menyadari dan meyakini
keperkasaan ALlah setelah melihat
tanda- tanda kebesaranNya. 2.
Curahan Hati (Ash Shabbabah) Bila
rasa simpati telah tertanggapi,
maka seseorang akan
menjadikannya sebagai tempat
untuk mencurahkan isi hati, tempat
mengeluarkan "uneg-uneg",
sehingga menumbuhkan cinta
sesungguhnya. Dalam hubungan
antar manusia, hal ini boleh
dikatakan sebagai saling
menyatakan rasa cinta. Menurut
Ibnu Taimiyyah, seorang hamba
dengan melihat ayat-ayat yang
terhampar (al ayyatul kauniyyah)
di semesta ini, sebenarnya sudah
cukup untuk dapat bersijut ke fase
berikutnya dengan bertambahnya
keseriusan yang dimiliki untuk
dapat lebih dekat kepada yang
dicintainya (ALlah SWT) serta
menjadikannya curahan hati (dalam
berdo'a). Rasa simpati saja, tanpa
keseriusan dan kesungguhan,
mustahil dapat memberikan hasil
berupa rasa cinta. 3. Rindu (Asy
Syauku) Bila telah saling cinta, maka
rasa rindu pasti timbul. Apapun dan
siapapun yang dicintai, pasti akan
menimbulkan rasa rindu. Orang
yang rindu, tak jarang selalu
teringat kepada yang dirindui/
dicintai, ingin selalu menyebut
namanya, senang bila terdengar
nama yang dicintai dan sangat ingin
segera bertemu. Orang yang
teramat sangat cintanya kepada
ALlah SWT, juga akan senantiasa
rindu dan selalu ingat serta selalu
ingin menyebut namanya (dzikir),
dan bergetar hatinya bila
disebutkan ayat- ayatNya (8:2) 4.
Mesra (Al 'Isyqu) Orang yang saling
memendam rindu, bila kemudian
bertemu akan saling merasakan
kemesraan. Di tingkat ini,
kemesraan tidak jarang akan
melalaikan. Bila kemesraan telah
mencapai tingkatan yang
melenakan, maka fase ini telah
berubah ke fase berikutnya yaitu
pengabdian. 5. Pengabdian (Al
'Ubudiyyah) Fase cinta berupa
pengabdian hanyalah hak ALlah,
bila seseorang mencintai sesuatu
sampai ia lalai, berarti sesuatu yang
dicintai dan dimesrainya itu telah
menjadi ilah-nya. Karenanya
banyak manusia yang menuhankan
sesuatu selain ALlah. Seorang
muslim boleh-boleh saja mencintai
manusia (orangtua, anak, isteri/
suami) atau harta kekayaan,
perniagaan, rumah dan lain lain,
seperti yang disebutkan dalam ayat
9:24, TAPI kecintaan tersebut tidak
boleh melebihi kecintaannya
kepada ALlah SWT, RasulNya dan
berjihad fisabiliLlah. Kecintaan
kepada selain ALlah, hanya bisa
ditolerir sampai fase ke-empat yang
tidak sampai melalaikan, demikian
menurut Ibnu Taimiyyah.
Kenyataannya? Fenomena yang
ada di sekitar kita mengatakan lain!
Banyak terjadi, cinta hamba kepada
ALlah hanya setaraf simpati, sedang
cintanya pada selain ALlah justru
cinta seorang abdi. Ada pula hamba
yang kecintaannya kepada ALlah
dan yang selain ALLah didudukkan#
pada tingkat yang sama, yakni
pengabdian. AudzubiLlahi min
dzalika. Dalam hal ini Muhammad
bin Abdul Wahhab, murid Ibnu
Taimiyyah, dalam "Kitab Tauhid"-
nya (yang tengah diposting secara
serial oleh akh Jazi Istiyanto)
menyatakan bahwa menyamakan
kecintaan kita kepada ALlah dengan
kecintaan kepada selain ALlah, syirik
besar hukumnya. Beliau
menamakan syirik tersebut sebagai
2:165. Semoga kita termasuk
mereka yang dapat
memprioritaskan cintanya kepada
ALlah Rabbul Jalil, kepada RasulNya
dan kepada Al- Islam; dan semoga
kita terlindung dari perbuatan syirik.
Wassalamu'alaikum Reference: [1]
Ibnu Taimiyyah, "Al 'Ubudiyyah" [2]
Al Quran & Terjamahnya (Depag RI),
2:165 dan 9:24
Kamis, 02 Desember 2010
YAQIN SURGA NERAKA PADAHAL BELUM PERNAH KESANA.??
Tidakkah orang-
orang Islam
menyakini yaumul
jaza ’ (hari
pembalasan)?
Tidakkah orang-
orang Islam
menyakini janji dari
Rabbnya tentang
adanya surga dan
neraka? Masihkah
orang-orang Islam
menyakini adanya
hari akhirat? Karena,
kenyataannya
banyak di antara
mereka yang
terkena penyakit
‘ wahn’, yaitu
hubbudunnya wa
karohiyatul maut
(cinta dunia dan
takut mati).
Surga dan neraka
tidak dapat
divisualisasikan
dengan nyata. Tidak
nampak. Tidak
konkrit. Tidak dapat
dirasakan secara
indera. Kehidupan di
akhirat, adanya
surga dan neraka,
hanya dapat diyakini.
Di sinilah manusia
yang telah beriman
dan mengucapkan
dua kalimah
syahadat – asyhadu
alla ilaaha illaLlah wa
asyhadu anna
Muhammadar
Rasulullah – akan
diuji kebenaran
pernyataannya itu.
Apakah ia tulus
dengan pilihan
hidupanya menjadi
muslim, atau
pernyataannya itu,
tidak mempunyai arti
apa-apa dalam
kehidupan.
Rasulullah Saw
seringkali berbicara
tentang kehidupan
akhirat, dan surga.
Dan, yang dimaksud
oleh Rasulullah Saw,
adalah keridhaan
Allah Ta ’ala.
Sebagian di antara
orang-orang yang
pernah bertemu
dengan beliau
meminta kekuasaan.
Tapi, Rasulullah Saw
bersabda:
“ Surga”. Orang-
orang yang datang di
antaranya adalah
para sahabat
bertanya: “Wahai
Rasul apa yang ingin
kami lakukan ?”.
“Kalian jual diri
kalian kepada
Allah ”, jawab
Rasulullah Saw.
“ Lalu apa yang
akan kami dapat?”,
tanya mereka.
“ Surga”, jawa
Rasul Saw.
Rasulullah Saw tidak
menjanjikan kepada
mereka istana yang
megah, emas, perak,
atau kedudukan, tapi
semata-mata hanya
menjanjikan surga.
Karena itu, orang-
orang yang telah
beriman kepada Allah
dan Rasul, memiliki
kekuatan, yang
bersumber dari
keyakinan, yang tak
ada batasnya.
Keyakinan yang
mutlak dari mereka
itu, yang membuat
hidup mereka lebih
bermakna, baik di
mata manusia, atau
di sisi Rabbnya.
Maka, mereka
memiliki
kesanggupan yang
sangat luar biasa.
Mereka sanggup
ditempa terik
matahari, panasnya
gurun pasir, berjalan
ribuan kilometer, dan
hanya menggunakan
onta, sebagai
wasilah, yang
mereka tumpangi.
Mereka sanggup
menghadapi
kelaparan, dan
dahaga, yang
mencekik, tapi
mereka tak pernah
menyerah. Mereka
menghadapi siksaan,
yang amat kejam,
tak sedikit mereka
yang gugur, akibat
siksaan itu. Mereka
dipenjara, diusir,
dicerai-beraikan, dan
bahkan ada di antara
mereka ada yang
cacad seumur hidup.
Di antara mereka ada
pula yang
mengorbankan
dirinya (nyawanya),
dan dengan penuh
kegembiraan, tanpa
ada rasa takut.
Mereka hanya
membayangkan janji
dari Rabbnya, yaitu
surga.
Imam Bukhari dalam
shahihnya, bahwa Ali
ra pernah berkata:
“ Dunia pergi
menjauh, dan akhirat
mendekat. Karena
itu, jadilah kalian
anak-anak akhirat,
jangan menjadi
budak-budak
dunia”. Ali bin Abi
Thalib adalah guru
bagi orang-orang
yang mencintai
akhirat. Dalam
riwayat yang shahih,
suatu malam Ali ra
mengelus-ngelus
janggutnya, sambil
menangis, “Wahai
dunia, wahai yang
hina, kujatuhkan
talak tiga kepadamu
tanpa rujuk lagi ”,
gumam Ali ra.
Abdullah bin
Hudzaifah, ketika
menjadi tawanan,
dibawa menghadap
Raja Persia. Sang
Raja berkata kepada
Hudzaifah: “Hai
Abdullah bin
Hudzaifah! Apakah
kamu besedia keluar
dari agama
Muhammad dengan
imbalan kuberi
separuh
kerajaanku?”.
“Demi Allah yang
tidak ada Tuhan
selain Dia, sekedip
matapun aku tidak
akan mundur dari
agama Muhammad
walau engkau
memberiku seluruh
kerajaanmu dan
kerajaan bapak dan
kakekmu!?
Mereka lebih
mencintai kehidupan
akhirat,
dibandingkan dengan
kelezatan dan
kenikmatan
kehidupan dunia,
yang pasti akan
sirna. Wallahu
‘ alam.
orang Islam
menyakini yaumul
jaza ’ (hari
pembalasan)?
Tidakkah orang-
orang Islam
menyakini janji dari
Rabbnya tentang
adanya surga dan
neraka? Masihkah
orang-orang Islam
menyakini adanya
hari akhirat? Karena,
kenyataannya
banyak di antara
mereka yang
terkena penyakit
‘ wahn’, yaitu
hubbudunnya wa
karohiyatul maut
(cinta dunia dan
takut mati).
Surga dan neraka
tidak dapat
divisualisasikan
dengan nyata. Tidak
nampak. Tidak
konkrit. Tidak dapat
dirasakan secara
indera. Kehidupan di
akhirat, adanya
surga dan neraka,
hanya dapat diyakini.
Di sinilah manusia
yang telah beriman
dan mengucapkan
dua kalimah
syahadat – asyhadu
alla ilaaha illaLlah wa
asyhadu anna
Muhammadar
Rasulullah – akan
diuji kebenaran
pernyataannya itu.
Apakah ia tulus
dengan pilihan
hidupanya menjadi
muslim, atau
pernyataannya itu,
tidak mempunyai arti
apa-apa dalam
kehidupan.
Rasulullah Saw
seringkali berbicara
tentang kehidupan
akhirat, dan surga.
Dan, yang dimaksud
oleh Rasulullah Saw,
adalah keridhaan
Allah Ta ’ala.
Sebagian di antara
orang-orang yang
pernah bertemu
dengan beliau
meminta kekuasaan.
Tapi, Rasulullah Saw
bersabda:
“ Surga”. Orang-
orang yang datang di
antaranya adalah
para sahabat
bertanya: “Wahai
Rasul apa yang ingin
kami lakukan ?”.
“Kalian jual diri
kalian kepada
Allah ”, jawab
Rasulullah Saw.
“ Lalu apa yang
akan kami dapat?”,
tanya mereka.
“ Surga”, jawa
Rasul Saw.
Rasulullah Saw tidak
menjanjikan kepada
mereka istana yang
megah, emas, perak,
atau kedudukan, tapi
semata-mata hanya
menjanjikan surga.
Karena itu, orang-
orang yang telah
beriman kepada Allah
dan Rasul, memiliki
kekuatan, yang
bersumber dari
keyakinan, yang tak
ada batasnya.
Keyakinan yang
mutlak dari mereka
itu, yang membuat
hidup mereka lebih
bermakna, baik di
mata manusia, atau
di sisi Rabbnya.
Maka, mereka
memiliki
kesanggupan yang
sangat luar biasa.
Mereka sanggup
ditempa terik
matahari, panasnya
gurun pasir, berjalan
ribuan kilometer, dan
hanya menggunakan
onta, sebagai
wasilah, yang
mereka tumpangi.
Mereka sanggup
menghadapi
kelaparan, dan
dahaga, yang
mencekik, tapi
mereka tak pernah
menyerah. Mereka
menghadapi siksaan,
yang amat kejam,
tak sedikit mereka
yang gugur, akibat
siksaan itu. Mereka
dipenjara, diusir,
dicerai-beraikan, dan
bahkan ada di antara
mereka ada yang
cacad seumur hidup.
Di antara mereka ada
pula yang
mengorbankan
dirinya (nyawanya),
dan dengan penuh
kegembiraan, tanpa
ada rasa takut.
Mereka hanya
membayangkan janji
dari Rabbnya, yaitu
surga.
Imam Bukhari dalam
shahihnya, bahwa Ali
ra pernah berkata:
“ Dunia pergi
menjauh, dan akhirat
mendekat. Karena
itu, jadilah kalian
anak-anak akhirat,
jangan menjadi
budak-budak
dunia”. Ali bin Abi
Thalib adalah guru
bagi orang-orang
yang mencintai
akhirat. Dalam
riwayat yang shahih,
suatu malam Ali ra
mengelus-ngelus
janggutnya, sambil
menangis, “Wahai
dunia, wahai yang
hina, kujatuhkan
talak tiga kepadamu
tanpa rujuk lagi ”,
gumam Ali ra.
Abdullah bin
Hudzaifah, ketika
menjadi tawanan,
dibawa menghadap
Raja Persia. Sang
Raja berkata kepada
Hudzaifah: “Hai
Abdullah bin
Hudzaifah! Apakah
kamu besedia keluar
dari agama
Muhammad dengan
imbalan kuberi
separuh
kerajaanku?”.
“Demi Allah yang
tidak ada Tuhan
selain Dia, sekedip
matapun aku tidak
akan mundur dari
agama Muhammad
walau engkau
memberiku seluruh
kerajaanmu dan
kerajaan bapak dan
kakekmu!?
Mereka lebih
mencintai kehidupan
akhirat,
dibandingkan dengan
kelezatan dan
kenikmatan
kehidupan dunia,
yang pasti akan
sirna. Wallahu
‘ alam.
Senin, 29 November 2010
BENARKAH ALLOH ITU ROH QUDUS.??
Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa
berfirman: "Dan sesungguhnya
Kami telah mengutus rasul pada
tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
Sembahlah Allah ( saja), dan jauhilah
Thaghut itu" (QS An Nahl: 36)
"Padahal mereka hanya disuruh
menyembah Tuhan Yang Maha Esa;
tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia. Maha Suci
Allah dari apa yang mereka
persekutukan" (QS At Taubah: 31)
"Maka sembahlah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya.
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-
lah agama yang bersih (dari syirik)
" (QS Az Zumar: 2-3) "Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya
menyembah Allah dengan
memurnikan keta`atan kepada-Nya
dalam (menjalankan) agama dengan
lurus" (QS Al Bayinah: 5) Al Quddus
( سودقلا) sifatNya Dzat Allah Yang
Memiliki Mutlak sifat Suci. Kata dasar
dari Al Quddus adalah Qaddasa
yang artinya mensucikan dan
Menjauhkan dari kejahatan, bisa pula
diartikan membesarkan dan
meagungkan. Rabb disucikan dari
setiap kekurangan sedikitpun,
disucikan dan diagungkan dari
segala bentuk penyerupaan,
perbandingan, bersekutu maupun
sekufu dengan mahlukNya.
Kesucian-Nya Allah ta'ala sangat
bersih dari perasaan keji, jahat,
negatif dan yang lainnya. Rasul-rasul
itu Kami lebihkan sebagian (dari)
mereka atas sebagian yang lain. Di
antara mereka ada yang Allah
berkata- kata (langsung dengan dia)
dan sebagiannya Allah
meninggikannya beberapa derajat.
Dan Kami berikan kepada Isa putera
Maryam beberapa mukjizat serta
Kami perkuat dia dengan Ruhul
Qudus. Dan kalau Allah
menghendaki, niscaya tidaklah
berbunuh-bunuhan orang-orang
(yang datang) sesudah rasul-rasul
itu, sesudah datang kepada mereka
beberapa macam keterangan, akan
tetapi mereka berselisih, maka ada di
antara mereka yang beriman dan
ada (pula) di antara mereka yang
kafir. Seandainya Allah
menghendaki, tidaklah mereka
berbunuh-bunuhan. Akan tetapi
Allah berbuat apa yang dikehendaki-
Nya. (Surat Al Baqarah ayat 253) 1.
( Ingatlah), ketika Allah mengatakan:
“ Hai Isa putra Maryam, ingatlah
nikmat-Ku kepadamu dan kepada
ibumu di waktu Aku menguatkan
kamu dengan ruhul qudus. Kamu
dapat berbicara dengan manusia di
waktu masih dalam buaian dan
sesudah dewasa; dan (ingatlah) di
waktu Aku mengajar kamu menulis,
hikmah, Taurat dan Injil, dan
( ingatlah pula) diwaktu kamu
membentuk dari tanah (suatu
bentuk) yang berupa burung
dengan ijin-Ku, kemudian kamu
meniup kepadanya, lalu bentuk itu
menjadi burung (yang sebenarnya)
dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di
waktu kamu menyembuhkan orang
yang buta sejak dalam kandungan
ibu dan orang yang berpenyakit
sopak dengan seizin-Ku, dan
( ingatlah) di waktu kamu
mengeluarkan orang mati dari
kubur (menjadi hidup) dengan
seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu
Aku menghalangi Bani Israil (dari
keinginan mereka membunuh
kamu) di kala kamu mengemukakan
kepada mereka keterangan-
keterangan yang nyata, lalu orang-
orang kafir diantara mereka berkata:
“ Ini tidak lain melainkan sihir yang
nyata”. (Al Maa’idah ayat 110)
wallohu'alam
berfirman: "Dan sesungguhnya
Kami telah mengutus rasul pada
tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
Sembahlah Allah ( saja), dan jauhilah
Thaghut itu" (QS An Nahl: 36)
"Padahal mereka hanya disuruh
menyembah Tuhan Yang Maha Esa;
tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia. Maha Suci
Allah dari apa yang mereka
persekutukan" (QS At Taubah: 31)
"Maka sembahlah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya.
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-
lah agama yang bersih (dari syirik)
" (QS Az Zumar: 2-3) "Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya
menyembah Allah dengan
memurnikan keta`atan kepada-Nya
dalam (menjalankan) agama dengan
lurus" (QS Al Bayinah: 5) Al Quddus
( سودقلا) sifatNya Dzat Allah Yang
Memiliki Mutlak sifat Suci. Kata dasar
dari Al Quddus adalah Qaddasa
yang artinya mensucikan dan
Menjauhkan dari kejahatan, bisa pula
diartikan membesarkan dan
meagungkan. Rabb disucikan dari
setiap kekurangan sedikitpun,
disucikan dan diagungkan dari
segala bentuk penyerupaan,
perbandingan, bersekutu maupun
sekufu dengan mahlukNya.
Kesucian-Nya Allah ta'ala sangat
bersih dari perasaan keji, jahat,
negatif dan yang lainnya. Rasul-rasul
itu Kami lebihkan sebagian (dari)
mereka atas sebagian yang lain. Di
antara mereka ada yang Allah
berkata- kata (langsung dengan dia)
dan sebagiannya Allah
meninggikannya beberapa derajat.
Dan Kami berikan kepada Isa putera
Maryam beberapa mukjizat serta
Kami perkuat dia dengan Ruhul
Qudus. Dan kalau Allah
menghendaki, niscaya tidaklah
berbunuh-bunuhan orang-orang
(yang datang) sesudah rasul-rasul
itu, sesudah datang kepada mereka
beberapa macam keterangan, akan
tetapi mereka berselisih, maka ada di
antara mereka yang beriman dan
ada (pula) di antara mereka yang
kafir. Seandainya Allah
menghendaki, tidaklah mereka
berbunuh-bunuhan. Akan tetapi
Allah berbuat apa yang dikehendaki-
Nya. (Surat Al Baqarah ayat 253) 1.
( Ingatlah), ketika Allah mengatakan:
“ Hai Isa putra Maryam, ingatlah
nikmat-Ku kepadamu dan kepada
ibumu di waktu Aku menguatkan
kamu dengan ruhul qudus. Kamu
dapat berbicara dengan manusia di
waktu masih dalam buaian dan
sesudah dewasa; dan (ingatlah) di
waktu Aku mengajar kamu menulis,
hikmah, Taurat dan Injil, dan
( ingatlah pula) diwaktu kamu
membentuk dari tanah (suatu
bentuk) yang berupa burung
dengan ijin-Ku, kemudian kamu
meniup kepadanya, lalu bentuk itu
menjadi burung (yang sebenarnya)
dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di
waktu kamu menyembuhkan orang
yang buta sejak dalam kandungan
ibu dan orang yang berpenyakit
sopak dengan seizin-Ku, dan
( ingatlah) di waktu kamu
mengeluarkan orang mati dari
kubur (menjadi hidup) dengan
seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu
Aku menghalangi Bani Israil (dari
keinginan mereka membunuh
kamu) di kala kamu mengemukakan
kepada mereka keterangan-
keterangan yang nyata, lalu orang-
orang kafir diantara mereka berkata:
“ Ini tidak lain melainkan sihir yang
nyata”. (Al Maa’idah ayat 110)
wallohu'alam
APA BOLEH MENDATANGI KIYAI/USTADZ UNTUK MELANCARKAN PEKERJAAN.??
"Dari Anas (bin Malik), bahwasanya
'Umar bin Khatab Rda. adalah
apabila terjadi kemarau, minta hujan
ia dengan Abas bin Abdul Muthalib,
maka beliau berkata : "Ya Allah
bahwasanya kami telah tawassul
kepada Engkau dengan Nabi kami,
maka Engkau turunkan hujan, dan
sekarang kami tawassul kepada
Engkau dengan paman Nabi kami,
maka turunkanlah hujan itu." (Hadits
ini dirawikan oleh Imam Bukhari dan
Baihaqi - lihat Sahih Bukhari I hal.
128 dan Baihaqi (Sunan al Kubra) II
hal. 352).
"Dari Anas (bin Malik) beliau berkata :
Datang seorang laki-laki Badui
kepada Nabi Muhammad Saw. lalu
ia berkata "Hai Rasulullah, kami
datang kepadamu karena tidak ada
lagi orang yang meringis, tiada lagi
bayi yang mendengkur, kemudian
ia membacakan sebuah sya'ir kuno
(yang dulu digubah oleh Abu Thalib
bapak Saidina 'Ali), yang artinya
Kecuali kepadamu tak ke mana kami
akan pergi, ke manakah manusia
akan minta bantuan kalau tidak
kepada Rasul Ilahi ? Mendengar
permintaan itu Nabi lantas berdiri
menarik selendang beliau dan lantas
naik mimbar lalu mendo'a : Ya Allah,
turunkanlah hujan". (Hadits ini
diriwayatkan oleh Imam Baihaqi
dalam kitab Dalail).
"Bahwa seorang laki-laki sakit mata
datang kepada Nabi Muhammad
Saw., maka ia berkata :
Mohonkanlah kepada Tuhan supaya
la menyehatkan aku! Maka Nabi
menjawab : Kalau engkau mau nanti
sajalah, tetapi kalau engkau mau
(sekarang juga) saya do'akan. Lakl-
laki itu menjawab : Mohonkanlah
do'a sekarang Juga. Lalu Nabi
menyuruh ia berwudhu' dan
sembahyang dua raka'at dan
berdo'a dengan do'a ini:
Ya Allah, saya memohon kepada-
Mu dan menghadap kepada-Mu
dengan Muhammad, Nabi yang
Penyayang. Hai Muhammad, saya
menghadap kepada Tuhan dengan
engkau tentang permintaan saya ini,
perkenankanlah. Ya Allah, beri
syafa'atlah ia kepadaku" (Hadits
riwayat Ibnu Majah dan ia berkata,
ini had its sahih) lihat Sunan Ibnu
Majah jilid I pagina 418-419 dan
disalin oleh Imam Ibnu Hajar al
Asqalani dalam Fathul Ban Juzu' III,
pagina 148)
"Dan Ibnu 'Umar Rda., dari Nabi
Muhammad Saw. beliau
menceritakan : Adalah tiga orang
berjalan ke luar kota, tiba-tiba hujan
turun, maka mereka ketiganya
masuk berlindung ke dalam sebuah
gua pada suatu bukit. Kebetulan
kemudian batu besar jatuh
menutupi pintu gua mereka. Salah
seorang di antara mereka berkata
kepada kawannya : Berdo'alah
kepada Tuhan dengan berkat amal
saleh yang engkau kerjakan. Lalu
salah seorang dari pada merekn
berdo'a : Ya Allah, dahulu ada dua
orang ibu-bapa saya yang sudah
tua. Saya keluar menggembala dan
saya perah susu gembalaanku lalu
saya bawa susunya pulang. Saya
beri minum ibu-bapak, anak-
anakku, familiku dari isteriku dengan
susu itu. Pada suatu hari saya
terlambat pulang, saya dapati ibu-
bapaku sudah tidur, saya tidak suka
mengagetkan mereka dengan
memhbngunkannya, padalial anak-
anak bertangisan minta susu di
bawah kakiku. Begitulah saya hingga
sampai pagi.
Ya Allah, kalau Engkau tahu
bahwasanya saya memperbuat
amal itu karena semata-mata karena
ntengharapkan keredhaan Engkau,
maka bukalah pintu gua ini sehingga
kami dapat melihat langit. Maka
pintu gua dibukakan oleh Tuhan
sepertiganya" (Hadits sahih riwayat
Imam Bukhari dan Muslim - lihat
Sahih Bukhari II hal 17- 18).
"Bahwasanya kemarau menimpa
manusia pada zaman Khalifah Umar
bin Khatab Rda. Seorang sahabat
Nabi yang utama bernama Bilal bin
Harits datang ke makam Nabi
Muhnrnmad Saw. di Madinah dan
berziarah kepada beliau. Pada ketika
itu ia berkata : Hai Rasulullah,
mintakanlah hujan untuk ummat
engkau karena mereka hampir
binasa. Maka datang Rasulullah
kepadanya (dalam mimpi)
mengabarkan bahwa hujau akan
turun". (Hadits ditiriwayatkan oleh
Imam Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah
dengan sanad yang sahih).
boleh saja memnita dido'akan oleh
ulama supaya usaha maju.dan anda
juga harus berusaha dan berdo'a.
wallohhu'lam
'Umar bin Khatab Rda. adalah
apabila terjadi kemarau, minta hujan
ia dengan Abas bin Abdul Muthalib,
maka beliau berkata : "Ya Allah
bahwasanya kami telah tawassul
kepada Engkau dengan Nabi kami,
maka Engkau turunkan hujan, dan
sekarang kami tawassul kepada
Engkau dengan paman Nabi kami,
maka turunkanlah hujan itu." (Hadits
ini dirawikan oleh Imam Bukhari dan
Baihaqi - lihat Sahih Bukhari I hal.
128 dan Baihaqi (Sunan al Kubra) II
hal. 352).
"Dari Anas (bin Malik) beliau berkata :
Datang seorang laki-laki Badui
kepada Nabi Muhammad Saw. lalu
ia berkata "Hai Rasulullah, kami
datang kepadamu karena tidak ada
lagi orang yang meringis, tiada lagi
bayi yang mendengkur, kemudian
ia membacakan sebuah sya'ir kuno
(yang dulu digubah oleh Abu Thalib
bapak Saidina 'Ali), yang artinya
Kecuali kepadamu tak ke mana kami
akan pergi, ke manakah manusia
akan minta bantuan kalau tidak
kepada Rasul Ilahi ? Mendengar
permintaan itu Nabi lantas berdiri
menarik selendang beliau dan lantas
naik mimbar lalu mendo'a : Ya Allah,
turunkanlah hujan". (Hadits ini
diriwayatkan oleh Imam Baihaqi
dalam kitab Dalail).
"Bahwa seorang laki-laki sakit mata
datang kepada Nabi Muhammad
Saw., maka ia berkata :
Mohonkanlah kepada Tuhan supaya
la menyehatkan aku! Maka Nabi
menjawab : Kalau engkau mau nanti
sajalah, tetapi kalau engkau mau
(sekarang juga) saya do'akan. Lakl-
laki itu menjawab : Mohonkanlah
do'a sekarang Juga. Lalu Nabi
menyuruh ia berwudhu' dan
sembahyang dua raka'at dan
berdo'a dengan do'a ini:
Ya Allah, saya memohon kepada-
Mu dan menghadap kepada-Mu
dengan Muhammad, Nabi yang
Penyayang. Hai Muhammad, saya
menghadap kepada Tuhan dengan
engkau tentang permintaan saya ini,
perkenankanlah. Ya Allah, beri
syafa'atlah ia kepadaku" (Hadits
riwayat Ibnu Majah dan ia berkata,
ini had its sahih) lihat Sunan Ibnu
Majah jilid I pagina 418-419 dan
disalin oleh Imam Ibnu Hajar al
Asqalani dalam Fathul Ban Juzu' III,
pagina 148)
"Dan Ibnu 'Umar Rda., dari Nabi
Muhammad Saw. beliau
menceritakan : Adalah tiga orang
berjalan ke luar kota, tiba-tiba hujan
turun, maka mereka ketiganya
masuk berlindung ke dalam sebuah
gua pada suatu bukit. Kebetulan
kemudian batu besar jatuh
menutupi pintu gua mereka. Salah
seorang di antara mereka berkata
kepada kawannya : Berdo'alah
kepada Tuhan dengan berkat amal
saleh yang engkau kerjakan. Lalu
salah seorang dari pada merekn
berdo'a : Ya Allah, dahulu ada dua
orang ibu-bapa saya yang sudah
tua. Saya keluar menggembala dan
saya perah susu gembalaanku lalu
saya bawa susunya pulang. Saya
beri minum ibu-bapak, anak-
anakku, familiku dari isteriku dengan
susu itu. Pada suatu hari saya
terlambat pulang, saya dapati ibu-
bapaku sudah tidur, saya tidak suka
mengagetkan mereka dengan
memhbngunkannya, padalial anak-
anak bertangisan minta susu di
bawah kakiku. Begitulah saya hingga
sampai pagi.
Ya Allah, kalau Engkau tahu
bahwasanya saya memperbuat
amal itu karena semata-mata karena
ntengharapkan keredhaan Engkau,
maka bukalah pintu gua ini sehingga
kami dapat melihat langit. Maka
pintu gua dibukakan oleh Tuhan
sepertiganya" (Hadits sahih riwayat
Imam Bukhari dan Muslim - lihat
Sahih Bukhari II hal 17- 18).
"Bahwasanya kemarau menimpa
manusia pada zaman Khalifah Umar
bin Khatab Rda. Seorang sahabat
Nabi yang utama bernama Bilal bin
Harits datang ke makam Nabi
Muhnrnmad Saw. di Madinah dan
berziarah kepada beliau. Pada ketika
itu ia berkata : Hai Rasulullah,
mintakanlah hujan untuk ummat
engkau karena mereka hampir
binasa. Maka datang Rasulullah
kepadanya (dalam mimpi)
mengabarkan bahwa hujau akan
turun". (Hadits ditiriwayatkan oleh
Imam Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah
dengan sanad yang sahih).
boleh saja memnita dido'akan oleh
ulama supaya usaha maju.dan anda
juga harus berusaha dan berdo'a.
wallohhu'lam
Langganan:
Postingan (Atom)